Penunjukan John Herdman sebagai pelatih anyar Timnas Indonesia langsung mengguncang peta persaingan sepak bola Asia Tenggara. Sosok pelatih berpengalaman internasional ini memang datang dengan reputasi besar, namun di balik optimisme publik Indonesia, muncul pandangan menarik dari kubu rival. Dari Malaysia, muncul suara yang menilai bahwa kehadiran Herdman justru menandai bahwa Timnas Indonesia sedang kembali ke titik nol.

Pernyataan tersebut bukan tanpa alasan. Dalam sudut pandang rival, pergantian pelatih di level tim nasional selalu berarti reset—baik secara filosofi, strategi, hingga struktur permainan. Meski Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan grafik menanjak, perubahan nakhoda dianggap sebagai fase transisi yang rawan.

Namun, “titik nol” yang dimaksud bukan semata kemunduran. Justru sebaliknya, ini adalah awal dari sebuah proyek besar. John Herdman dikenal sebagai pelatih dengan pendekatan sistematis, disiplin tinggi, dan visi jangka panjang. Ia bukan tipe pelatih instan yang hanya mengejar hasil cepat, melainkan pembangun fondasi.

Dari perspektif Malaysia, situasi ini membuka peluang. Saat Indonesia sibuk menyesuaikan diri dengan metode baru, rival tentu melihat celah untuk mengambil keuntungan di ajang-ajang kompetitif. Adaptasi pemain terhadap gaya kepelatihan Herdman, pemilihan skema ideal, hingga penyesuaian mental akan menjadi tantangan awal.

Namun jika dilihat lebih dalam, anggapan “balik ke titik nol” bisa jadi terlalu menyederhanakan realita. Timnas Indonesia saat ini tidak memulai dari kehampaan. Fondasi pemain muda, jam terbang internasional, serta mental kompetitif yang sudah terbentuk tetap menjadi modal penting. Herdman datang bukan untuk menghapus, melainkan menyusun ulang.

Justru di sinilah letak bahaya bagi rival. Titik nol versi Herdman bukan kondisi kosong, melainkan papan gambar baru di atas struktur yang sudah ada. Dengan pengalaman menangani tim nasional di level dunia, ia paham bagaimana membangun identitas permainan yang kuat tanpa kehilangan karakter pemain.

Bagi Indonesia sendiri, komentar dari Malaysia seharusnya dibaca sebagai alarm sekaligus tantangan. Era Herdman akan menuntut kesabaran publik, dukungan federasi, dan konsistensi pemain. Proses mungkin tidak selalu mulus, tetapi arah besarnya jelas: membentuk tim nasional yang matang secara taktik dan mental.

Pada akhirnya, apakah Timnas Indonesia benar-benar kembali ke titik nol atau justru melompat ke level berikutnya, hanya waktu yang bisa menjawab. Satu hal yang pasti, dengan John Herdman di kursi pelatih, sepak bola Indonesia sedang membuka bab baru—dan seluruh Asia Tenggara kini memperhatikannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *